Kisah tentang dua orang anak yang mewarisi rambut Rasulullah SAW
merupakan salah satu kisah masyhur mengenai keberkahan (tabarruk)
memuliakan peninggalan Nabi. Cerita ini tercatat dalam beberapa kitab klasik,
salah satunya adalah Kitab Irsyadul Ibad karya Syekh Zainuddin Al-Malibary.
Berikut adalah ringkasan kisah lengkapnya:
📜 Warisan
yang Tidak Biasa
Zaman dahulu, hidup seorang pedagang muslim yang kaya raya di
negeri khilafah. Ia memiliki dua orang anak laki-laki. Ketika sang ayah
meninggal dunia, ia meninggalkan harta warisan yang sangat melimpah berupa
uang, tanah, properti, beserta tiga helai rambut Rasulullah SAW yang
dijaganya semasa hidup.
Saat kedua anak ini membagi harta warisan, mereka membagi seluruh
aset materi menjadi dua bagian yang sama rata. Namun, masalah muncul ketika
mereka harus membagi tiga helai rambut Rasulullah SAW.
⚖️ Pilihan Sang Kakak vs Kebaktian Sang
Adik
Sang kakak mengusulkan untuk memotong salah satu helai rambut
tersebut menjadi dua bagian agar mereka masing-masing mendapatkan 1,5 helai
rambut.
Mendengar ide itu, sang adik langsung menolak keras. Ia merasa
memotong rambut Rasulullah SAW adalah bentuk ketidaksuburan, ketidakmurnian,
dan tindakan yang kurang beradab kepada Nabi. Sang adik berkata, "Demi
Allah, rambut Rasulullah tidak boleh dipotong!"
Melihat kecintaan adiknya yang begitu besar, sang kakak yang lebih
berorientasi pada harta duniawi menawarkan sebuah kesepakatan:
"Jika kamu begitu menginginkan rambut ini, ambil saja
ketiganya untukmu. Tetapi sebagai gantinya, serahkan seluruh bagian harta
warisanmu (berupa emas, dinar, dan properti) kepadaku."
Tanpa ragu sedikit pun, sang adik menyetujui tawaran tersebut.
Ia menyerahkan seluruh hak harta warisannya kepada kakaknya demi menjaga
keutuhan tiga helai rambut Rasulullah SAW. Sang adik membawa pulang rambut
tersebut dengan penuh rasa hormat, menyimpannya di tempat yang mulia, dan
sering menciuminya serta bershalawat kepada Nabi. Sementara sang kakak pergi
membawa seluruh harta kekayaan dan hidup bermewah-mewahan.
🔄 Putaran
Roda Nasib dan Keberkahan
Waktu pun berlalu. Sang kakak yang memiliki banyak harta
menggunakan uangnya untuk berbisnis, namun ia mengalami serangkaian nasib
buruk. Usahanya bangkrut, tertipu, dan dalam beberapa tahun saja, seluruh
kekayaannya habis tak tersisa hingga ia jatuh miskin menjadi pengemis.
Sebaliknya, kehidupan sang adik berubah secara ajaib. Berkat rasa
hormat, cinta, dan keberkahan (tabarruk) dari keputusannya memuliakan
rambut Rasulullah SAW, pintu-pintu rezeki terbuka lebar untuknya. Bisnis kecil
yang ia rintis berkembang dengan sangat pesat hingga ia menjadi orang yang jauh
lebih kaya raya daripada ayahnya dahulu.
🌌 Pesan di
Dalam Mimpi
Setelah sang adik menjadi kaya raya dan sang kakak jatuh miskin,
sang adik bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut,
Rasulullah SAW bersabda kepadanya yang maknanya:
"Barangsiapa yang memuliakan aku (dan peninggalanku), maka
Allah akan memuliakannya di dunia dan di akhirat. Sampaikan kepada kakakmu,
jika ia ingin kembali berkecukupan, ia harus datang kepadamu dan meminta maaf
serta ikut memuliakan apa yang telah kamu muliakan."
Sang adik kemudian mencari kakaknya yang hidup terlantar,
membantunya, dan membagikan sebagian kekayaannya demi merawat sang kakak,
sembari mengajarkan arti penting mencintai Rasulullah SAW di atas urusan
duniawi.
Namun, sebagai panduan pasti untuk mencarinya di dalam kitab, Anda
bisa langsung menuju ke bab spesifiknya. Kisah dua bersaudara dan warisan
rambut Rasulullah SAW ini diletakkan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibary pada:
- Bab: الباب الثاني في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم (Bab Kedua: Tentang Shalawat kepada
Nabi SAW).
- Sub-Bab
/ Konteks: Bagian akhir bab yang membahas tentang keutamaan mencintai,
mengagungkan, dan mengambil berkah (tabarruk) dari peninggalan Nabi
Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar