ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLOH ...
AHLAN WA SAHLAN WA MARHABAN ....

Join The Community

Subscribe via Email

Selasa, 22 September 2026

Keberkahan Memuliakan Rambut Rasulullah SAW

 

Kisah tentang dua orang anak yang mewarisi rambut Rasulullah SAW merupakan salah satu kisah masyhur mengenai keberkahan (tabarruk) memuliakan peninggalan Nabi. Cerita ini tercatat dalam beberapa kitab klasik, salah satunya adalah Kitab Irsyadul Ibad karya Syekh Zainuddin Al-Malibary.

Berikut adalah ringkasan kisah lengkapnya:

📜 Warisan yang Tidak Biasa

Zaman dahulu, hidup seorang pedagang muslim yang kaya raya di negeri khilafah. Ia memiliki dua orang anak laki-laki. Ketika sang ayah meninggal dunia, ia meninggalkan harta warisan yang sangat melimpah berupa uang, tanah, properti, beserta tiga helai rambut Rasulullah SAW yang dijaganya semasa hidup.

Saat kedua anak ini membagi harta warisan, mereka membagi seluruh aset materi menjadi dua bagian yang sama rata. Namun, masalah muncul ketika mereka harus membagi tiga helai rambut Rasulullah SAW.

⚖️ Pilihan Sang Kakak vs Kebaktian Sang Adik

Sang kakak mengusulkan untuk memotong salah satu helai rambut tersebut menjadi dua bagian agar mereka masing-masing mendapatkan 1,5 helai rambut.

Mendengar ide itu, sang adik langsung menolak keras. Ia merasa memotong rambut Rasulullah SAW adalah bentuk ketidaksuburan, ketidakmurnian, dan tindakan yang kurang beradab kepada Nabi. Sang adik berkata, "Demi Allah, rambut Rasulullah tidak boleh dipotong!"

Melihat kecintaan adiknya yang begitu besar, sang kakak yang lebih berorientasi pada harta duniawi menawarkan sebuah kesepakatan:

"Jika kamu begitu menginginkan rambut ini, ambil saja ketiganya untukmu. Tetapi sebagai gantinya, serahkan seluruh bagian harta warisanmu (berupa emas, dinar, dan properti) kepadaku."

Tanpa ragu sedikit pun, sang adik menyetujui tawaran tersebut. Ia menyerahkan seluruh hak harta warisannya kepada kakaknya demi menjaga keutuhan tiga helai rambut Rasulullah SAW. Sang adik membawa pulang rambut tersebut dengan penuh rasa hormat, menyimpannya di tempat yang mulia, dan sering menciuminya serta bershalawat kepada Nabi. Sementara sang kakak pergi membawa seluruh harta kekayaan dan hidup bermewah-mewahan.

🔄 Putaran Roda Nasib dan Keberkahan

Waktu pun berlalu. Sang kakak yang memiliki banyak harta menggunakan uangnya untuk berbisnis, namun ia mengalami serangkaian nasib buruk. Usahanya bangkrut, tertipu, dan dalam beberapa tahun saja, seluruh kekayaannya habis tak tersisa hingga ia jatuh miskin menjadi pengemis.

Sebaliknya, kehidupan sang adik berubah secara ajaib. Berkat rasa hormat, cinta, dan keberkahan (tabarruk) dari keputusannya memuliakan rambut Rasulullah SAW, pintu-pintu rezeki terbuka lebar untuknya. Bisnis kecil yang ia rintis berkembang dengan sangat pesat hingga ia menjadi orang yang jauh lebih kaya raya daripada ayahnya dahulu.

🌌 Pesan di Dalam Mimpi

Setelah sang adik menjadi kaya raya dan sang kakak jatuh miskin, sang adik bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW bersabda kepadanya yang maknanya:

"Barangsiapa yang memuliakan aku (dan peninggalanku), maka Allah akan memuliakannya di dunia dan di akhirat. Sampaikan kepada kakakmu, jika ia ingin kembali berkecukupan, ia harus datang kepadamu dan meminta maaf serta ikut memuliakan apa yang telah kamu muliakan."

Sang adik kemudian mencari kakaknya yang hidup terlantar, membantunya, dan membagikan sebagian kekayaannya demi merawat sang kakak, sembari mengajarkan arti penting mencintai Rasulullah SAW di atas urusan duniawi.

Namun, sebagai panduan pasti untuk mencarinya di dalam kitab, Anda bisa langsung menuju ke bab spesifiknya. Kisah dua bersaudara dan warisan rambut Rasulullah SAW ini diletakkan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibary pada:

  • Bab: الباب الثاني في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم (Bab Kedua: Tentang Shalawat kepada Nabi SAW).
  • Sub-Bab / Konteks: Bagian akhir bab yang membahas tentang keutamaan mencintai, mengagungkan, dan mengambil berkah (tabarruk) dari peninggalan Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar